Arsip Kategori: Sejarah dan Budaya

Pengibaran Bendera Setengah Tiang Setiap Tanggal 30 September, Ini Tujuan dan Ketentuannya

Pengibaran Bendera Setengah Tiang Setiap Tanggal 30 September, Ini Tujuan dan Ketentuannya

Setiap tanggal 30 September, pemerintah Indonesia mengimbau seluruh masyarakat Indonesia untuk mengibarkan bendera setengah tiang.

Pengibaran bendera setengah tiang ini dilakukan di setiap kantor instansi pusat dan daerah hingga perwakilan Republik Indonesia di luar negeri.

O iya, seluruh komponen masyarakat Indonesia juga dianjurkan untuk mengibarkan bendera setengah tiang di depan rumah, lo.

Pengibaran bendera setengah tiang ini dilakukan satu hari, yakni pada 30 September setiap tahunnya.

Sebenarnya, apa sebabnya pengibaran bendera setengah tiang jadi bentuk berkabung dan apa tujuannya dikibarkan tiap tanggal 30 September, ya?

Kita cari tahu bersama, yuk!

Sejarah Pengibaran Bendera Setengah Tiang

Tahukah teman-teman? Ternyata pengibaran bendera setengah tiang sebagai bentuk berkabung ini tidak hanya dilakukan di Indonesia, lo.

Banyak negara yang juga melakukan hal ini sebagai bentuk berkabung, penghormatan, atau bahkan kemalangan.

Menurut catatan sejarah, tradisi yang dalam bahasa Inggris disebut half-mast ini sebenarnya sudah ada sejak abad ke-17.

Pada 1612 lalu, seorang kapten kapal Heart’s Ease asal Inggris meninggal dalam perjalanannya ke Kanada.

Setelah dari Kanada dan kembali ke London, awak kapal mengibarkan bendera Inggris sebagai penghormatan untuk kapten kapal itu.

Namun, bendera Inggris tidak dikibarkan di ujung tiang, melainkan lebih rendah daripada biasanya.

Hal ini karena ujung tiang bendera akan digunakan untuk mengibarkan bendera kematian.

Dari sejarah ini, orang-orang Inggris sebenarnya tidak mengibarkan bendera setengah tiang sebagai bentuk berkabung.

Mereka akan mengibarkan bendera kebangsaan dengan jarak satu bendera dari ujung tiang.

Namun, seiring dengan berjalannya waktu, beberapa negara mengadaptasinya dengan mengibarkan bendera di tengah tiang.

Tujuan Pengibaran Bendera Setengah Tiang 30 September

Bendera setengah tiang digunakan untuk menyebut kegiatan pengibaran bendera yang dikibarakan di tengah-tengah tiang.

Tindakan ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan, berkabung, dan/atau kemalangan, teman-teman.

Bendera setengah tiang yang dikibarkan pada 30 September dimaksudkan sebagai tanda duka nasional setelah gugurnya perwira militer Angkatan Darat (AD).

Para perwira militer AD gugur dalam tragedi yang dikenal dengan Gerakan 30 September atau G30S.

Baca Juga: 7 Manfaat Minum Es Teh untuk Kesehatan, Bisa Sehatkan Gigi hingga Atasi Dehidrasi

Mereka dituduh akan melakukan makar atau penggulingan kekuasaan terhadap Presiden Soekarno melalui Dewan Jenderal.

Jenazah tujuh Pahlawan Revolusi ini kemudian dimasukkan ke dalam sebuah sumur di Kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur.

Tujuh Pahlawan Revolusi yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September, antara lain:

1. Letjen Ahmad Yani (Menteri/Panglima AD/Kepala Staf Komandi Operasi Tertinggi)

2. Mayjen TNI Suprapto (Deputi II Menteri/Panglima AD Administrasi)

3. Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Menteri/Panglima AD Intelijen)

4. Brigjen Donald Isaac Panjaitan (Asisten IV Menteri/Panglima AD Logistik)

5. Mayjen TNI Siswondo Parman (Asisten I Menteri/Panglima AD Intelijen)

6. Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo (Inspektur Kehakiman/Oditus Jenderal AD)

7. Pierre Tendean (Ajudan Jenderal A.H. Nasution)

Aturan Pengibaran Bendera Setengah Tiang

Berdasarkan pasal 12 UU No. 24 Tahun 2009, Bendera Negara dapat digunakan sebagai tanda perdamaian, berkabung, dan penutup peti.

Bendera negara sebagai tanda berkabung ini akan dikibarkan dengan cara setengah tiang.

Adapun ketentuan dari pengibaran bendera setengah tiang sebagai tanda berkabung, adalah sebagai berikut:

– Apabila Presiden atau Wakil Presiden meninggal dunia, pengibaran bendera setengah tiang dilakukan selama tiga hari berturut-turut.

Pengibaran ini dilakukan di seluruh wilayah NKRI dan semua kantor perwakilan RI di luar negeri.

– Apabila pimpinan lembaga negara dan menteri atau pejabat setingkat meninggal dunia, pengibaran bendera setengah tiang dilakukan selama dua hari berturut-turut.

Pengibaran ini dilakukan terbatas pada gedung atau kantor pejabat negara yang bersangkutan.

– Apabila anggota lembaga negara, kepala daerah, dan/atau pimpinan DPRD meninggal dunia, pengibaran bendera setengah tiang dilakukan selama satu hari.

Pengibaran ini dilakukan terbatas pada gedung atau kantor pejabat yang bersangkutan.

– Dalam hal pejabat meninggal di luar negeri, pengibaran bendera setengah tiang dilakukan sejak tanggal kedatangan jenazah di Indonesia.

Sementara itu, ada pun ketentuan tentang pengibaran bendera setengah tiang juga terlampir pada pasal 14 ayat 2 dan 3 UU No. 24 Tahun 2009.

Pasal 14

(2) Bendera Negara yang dikibarkan setengah tiang, dinaikkan hingga ke ujung tiang, dihentikan sebentar dan diturunkan tepat setengah tiang.

(3) Dalam hal Bendera Negara sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hendak diturunkan, dinaikkan terlebih dahulu hingga ujung tiang, dihentikan sebentar, kemudian diturunkan.

Nah, itulah sejarah, tujuan, dan aturan pengibaran bendera setengah tiang. Semoga bisa menjawab rasa penasaran teman-teman, ya.

Contoh-Contoh Kasus Pelanggaran HAM, Penyebab, dan Penyelesaian

Tahukah teman-teman contoh-contoh kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia?

HAM (Hak Asasi Manusia) adalah hak dan kebebasan bagi semua orang tanpa memandang kebangsaan, jenis kelamin, etnis, ras, agama, bahasa, dan status lainnya.

hak sosial, budaya dan ekonomi, termasuk hak untuk berpartisipasi dalam kebudayaan, hak atas pangan, hak untuk bekerja dan hak atas pendidikan.

HAM juga didukung dan dilindungi hukum dan perjanjian nasional dan internasional, teman-teman.

Oleh sebab itu, bagi siapa saja yang melanggar HAM akan dikenai sanksi dan hukuman.

Berikut ini adalah contoh kasus pelanggaran HAM yang pernah terjadi di Indonesia, penyebab, dan penyelesaiannya.

5 Contoh Kasus Pelanggaran HAM, Penyebab, dan Penyelesaiannya

1. Kasus Lumpur Lapindo Brantas

Pada 29 Mei 2006, terjadi semburan lumpir akibat pengeboran yang dilakukan PT Lapindo Brantas.

Di peristiwa ini, banyak masyarakat yang kehilangan haknya atas tanah, anak-anak yang kehilangan halnya atas pendidikan, dan perenpuan yang kehilangan hak sebagai ibu rumah tangga karena lumpur terus keluar dan menenggelamkan area sekitar.

Penyebab semburan lumpur tidak terlalu jelas, namun diduga sebagai kesalahan penghitungan pengeboran oleh pihak perusahaan.

Baca Juga: 7 Contoh Hewan yang Mengalami Metamorfosis Sempurna

Untuk menyelesaikannya, PT Lapindo Brantas harus menanggung ganti rugi berkala pada penduduk sekitar. Selain itu, pimpinan perusahaan harus menerima hukuman dan membayar denda.

2. Pembatasan Hak Orang untuk Berpendapat 1997-1998

Peristiwa pembatas hak orang untuk berpendapat ini terjadi saat pemilihan Presiden Republik Indonesia periode 1998-2003.

Para aktivis, pemuda, mahasiswa, dan tokoh yang sering menyuarakan ketidakadilan terancam dianiaya.

Penyebabnya adalah para aktivis dinilai sebagai penghambat pihak-pihak tertentu untuk berkuasa.

Penyelesaiannya adalah Komnas HAM membentuk badan khusus untuk menyelidiki hal ini dan mendorong pemerintah membentuk Undang-Undang yang melindungi hak-hak rakyat.

3. Kerusuhan Mei 1998

Kerusuhan Mei 1998 terjadi pada 13 – 15 Mei 1998 di Jakarta dan sejumlah kota lain.

Penyebabnya adalah krisis moneter (keuangan) dan SARA.

4. Tragedi Trisakti

Tragedi Trisakti adalah kasus penghilangan nyawa 4 mahasiswa yang sedang berdemo.

Penyebabnya adalah rencana pemberlakukan UU Penanggulangan Keadaan Bahaya (PKB) yang dinilai rakyat terlalu otoriter, pdahal sistem pemerintahan Indonesia adalah demokrasi.

Upaya penyelesaian oleh Komnas HAM adalah dengan melakukan pemeriksaan, investigasi, dan menyusun aturan untuk melindungi hak-hak rakyat.

5. Peristiwa Aktivis Munir

Munir Said Thalib, yang lebih populer dengan panggilan Munir adalah seorang pejuang HAM.

Munir lahir di Malang, 8 Desember 1965. Ia diracun pada 7 September 2004 di pesawat menuju Belanda.

Penyebabnya, Munir adalah seorang aktivis yang diduga membuat beberapa pihak terancam.

Sebagai bentuk penyelesaian kasus, presiden Indonesia saat itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menerbitkan Keppres No. 1112004 tentang Pembentukan Tim Pencari Fakta (TPF) kasus tersebut.

Macam-Macam Bentuk Keragaman Budaya di Indonesia, Materi Kelas 5 SD Tema 8

Indonesia memang terkenal dengan keberagaman budayanya, mulai sabang hingga merauke.

Keragaman budaya Indonesia ini datang dari berbagai kebudayan lokal yang terus tumbuh dan berkembang.

Menariknya, hingga kini, kebudayaan itu masih terus dilestarikan oleh masyarakat setempat.

Pada materi kelas 5 Tema 8, teman-teman akan belajar tentang keragaman budaya di Indonesia.

Terdapat beberapa keragaman budaya di Indonesia seperti bahasa daerah, upacara adat, rumah adat, pakaian adat, hingga kesenian daerah.

5 Macam Keberagaman Budaya di Indonesia

Berikut disajikan macam-macam keragaman budaya di Indonesia dan penjelasannya.

1. Bahasa Daerah

Indonesia memiliki ratusan bahasa daerah. Bahkan, dalam satu provinsi bisa memiliki beberapa bahasa daerah.

Untuk menjaga kelestariannya, kita perlu menguasai bahasa daerah.

Bahasa daerah yang paling banyak digunakan di Indonesia adalah bahasa Jawa, ini karena sebagian besar penduduk Indonesia adalah suku Jawa.

Namun, walaupun memiliki beragam daerah, Indonesia memiliki bahasa nasional yakni bahasa Indonesia.

Tahukah teman-teman? Ternyata bahasa Indonesia sebenarnya berasal dari bahasa Melayu, lo.

2. Upacara Adat

Upacara adat merupakan salah satu warisan nenek moyang kita yang telah dijaga dan dilestarikan secara turun-temurun.

Meskipun perkembangan zaman semakin maju dan canggih, upacara adat tidak pernah dilupakan oleh sebagian masyarakat.

Sebab, upacara adat memiliki nilai dan kekuatan bagi masyarakat setempat.

Di Indonesia, tradisi upacara adat ini banyak dilakukan oleh masyarakat di tiap-tiap daerah.

Contoh upacara adat yang masih dilaksanakan hingga sekarang, seperti upacara ruwatan di Jawa Tengah hingga upacara Ngaben di Bali.

3. Rumah Adat

Rumah menjadi kebutuhan pokok untuk masyarakat Indonesia.

Setiap provinsi di Indonesia memiliki rumah adat dengan karakteristik dan namanya masing-masing.

Rumah adat senditi dapat digunakan sebagai tempat tinggal atau hunian. Selain itu, bisa pula menjadi tempat bersejarah.

Hingga kini rumah adat masih terus dipertahankan, baik dari segi kegunaan, fungsi sosial dan budayanya.

Contoh rumah adat di Indonesia yakni rumah adat Hanoi di Papua, rumah adat kebaya di DKI Jakarta hingga rumah adat gadang di Sumatera Barat.

4. Pakaian Adat

Pakaian adat jadi salah satu ciri suku tertentu di Indonesia, teman-teman.

Umumnya, pakaian adat dipakai saat berlangsunya proses upacara adat. Misalnya, pernikahan.

Pakaian adat Indonesia memang menjadi simbol di tiap daerahnya. Tiap-tiap daerah memiliki karakteristiknya masing-masing.

Terdapat keragaman warna dan corak dari masing-masing pakaian adat, mulai dari kombinasi warna cerah hingga cenderung gelap.

Hingga kini, pakaian adat masih terus digunakan, bahkan sudah banyak dimodifikasi agar terlihat trendi, lo.

Contoh pakaian adat yang ada di Indonesia yakni pakaian adat ulos di Sumatera Utara, pakaian adat bodo di Sulawesi Selatan, hingga kebaya di Jawa Tengah.

5. Kesenian Daerah

Kesenian daerah di Indonesia ada bermacam-macam bentuknya, mulai dari tari daerah, alat musik daerah, hingga lagu daerah.

Ketiga bentuk kesenian daerah itu masih berkembang dan terus dilestarikan hingga kini.

Setiap daerah memiliki kesenian daerah yang memiliki karakteristiknya masing-masing.

Contoh tari daerah di Indonesia seperti tari serimpi dari Yogyakarta, tari Piring dari Minangkabau, hingga tari Kecak dari Bali.

Baca Juga: Penjelasan Lengkap Poster: Ciri-Ciri, Jenis, dan Langkah-Langkah Membuat Poster

Contoh alat musik daerah di Indonesia antara lain, angklung di Jawa Barat, Kolintang di Sulawesi Utara, hingga Sasando di Nusa Tenggara Timur.

Contoh lagu daerah di Indonesia, yakni kicir-kicir dari DKI Jakarta, Bungong Jeumpa dari Aceh hingga Apuse dari Papua.

Contoh Sikap Menghormati dan Menghargai Keberagaman Budaya, Materi PPKn Kelas 3 SD

Indonesia adalah negara yang memiliki kebudayaan yang beragam.

Untuk menjaga persatuan dan kesatuan, teman-teman harus menghormati dan menghargai keberagaman budaya, seperti yang akan dijelaskan pada materi PPKn kelas 3 SD.

Apakah teman-teman tahu ada berapa kebudayaan yang ada di Indonesia?

Di Indonesia, ada sekitar 1.331 kelompok suku yang tersebar di seluruh wilayah, lo.

Baca Juga: Jenis-Jenis Gambar Ilustrasi dan Teknik Menggambar yang Digunakan

Setiap suku tersebut memiliki kebiasaan dan tradisi yang berbeda-beda.

Walau begitu mereka tetap bagian dari negara Indonesia.

Untuk mejaga persatuan tersebut, teman-teman harus memiliki rasa menghormati dan menghargai antarsuku budaya.

Menghormati menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah menaruh rasa hormat, mengakui.

Jadi, menghormati kebudayaan daerah lain adalah dengan memberikan rasa hormat dan mengakui adanya kebudayaan lain di Indonesia.

Sedangkan menghargai memiliki arti yang tidak jauh berbeda, yaitu memberikan rasa hormat.

Rasa hormat ini bisa diberikan dengan beragam cara.

Berikut akan dijelaskan cara menghargai dan menghormati antarkebudayaan.

1. Bangga Memakai Pakaian Adat Daerah Lain

Setiap daerah pasti memiliki pakaian adat yang berbeda-beda.

Untuk menunjukan rasa hormat, teman-teman harus bangga saat mengenakan pakaian adat daerah lain.

2. Mempelajari Tarian Adat Daerah Lain

Cara lain yang bisa dilakukan adalah tidak malu untuk belajar tarian adat daerah lain.

Bukan hanya pakaian adat, setiap suku juga memiliki tarian adat yang berbeda-beda.

Bila teman-teman tidak bisa menari, cukup memberikan apresiasi dengan mempelajari arti tarian daerah lain.

3. Menonton Pertunjukan Daerah Lain

Bentuk menghargai dan menghormati bisa dilakukan dengan menonton pertunjukan daerah lain.

Ikut datang dan menonton dengan tertib sudah menjadi bentuk apresiasi atas karya dan ke kekhasan budaya daerah lain.

4. Menjaga Kebersihan saat Berkunjung ke Daerah Lain

Teman-teman bisa juga menunjukan rasa hormat, dengan selalau menjaga kebersihan saat berkunjung ke daerah lain.

Terlebih saat berada di rumah adat daerah lain, jangan sampai mengotori bangunan kebudayaan tersebut.

5. Berbagi Cerita tentang Keistimewaan Suku Daerah Lain

Untuk menujukan rasa hormat, teman-teman juga bisa berbagi cerita dengan berbagai teman yang berasa dari suku yang berbeda.

Cara ini juga bisa membuat teman-teman lebih memahami dan mengenal kebudayaan lain.

Dengan mengenal, maka rasa hormat dan menghargai secara lebih baik.

Nah, itu tadi beragam cara menghargai dan menghormati keberagaman kebudayaan di Indonesia.

Sekarang, teman-teman harus bisa menghargai dan menghormati kebudayaan lain agar persatuan tertap terjaga.

Mengenal Ikan Red Devil, Ikan Hias Air Tawar yang Jadi Pemangsa Ikan Endemi Danau Toba

 Ikan red devil merupakan salah satu ikan hias yang populer dan banyak dipelihara oleh masyarakat.

Sebab, ikan yang diklasifikasikan oleh Albert Gunther pada 1864 ini memiliki penampilan yang cantik.

Meski begitu, ternyata ikan red devil adalah spesies ikan berbahaya dan predator bagi spesies-spesies lainnya, lo.

Bahkan, spesies ini juga pernah membuat masalah di perairan tawar Indonesia, yakni Danau Toba.

Untuk mengetahui lebih jelas tentang ikan red devil, simak informasi ini, yuk!

1. Berasal dari Amerika Tengah

Ikan red devil atau Amphilophus Labiatus merupakan spesies air tawar yang berasal dari Amerika Tengah.

Secara spesifik, ikan red devil ini merupakan spesies endemik dari perairan Nikaragua, seperti Danau Nikaragua hingga Danau Managua.

Meski begitu, ikan red devil ini diketahui sudah menyebar di seluruh Indonesia, teman-teman.

Mulai dari Waduk Sermo di Yogyakarta, Kedung Ombo di Jawa Tengah, hingga Danau Toba di Sumatra Utara.

Spesies ini umumnya ditemukan di perairan berbatu. Ini karena ikan ini menyukai berenang di antara celah batu.

Ikan red devil ini diketahui ada dua jenis yakni Amphilophus Labiatus dan Amphilophus Citrinellus.

2. Morfologi Ikan Red Devil

Meskipun bernama red devil, ternyata warna tubuh ikan yang mampu hidup hingga 10 hingga 12 tahun ini tidak sekedar merah.

Ada juga ikan red devil yang berwarna abu-abu, cokelat, putih, kuning, dan merah muda, teman-teman.

Tidak jarang, kita bisa melihat ikan red devil ini dengan bintik-bintik hitam atau pita di ekor atau siripnya.

Di alam liar, spesies ini terlihat dengan bibir yang besar, tetapi hal ini nampaknya tidak terjadi di penangkaran.

Dilansir dari Fishkeeping World, spesies ini mampu tumbuh dengan panjang sekitar 38 sentimeter dengan berat 1,2 kilogram.

Baca Juga:  Jarang Disadari, Ternyata 5 Kebiasaan Ini Bisa Merusak Otak

Ada perbedaan antara ikan red devil betina dan jantan. Ikan jantan memiliki ukuran lebih besar dan memiliki benjolan di kepala dan papila genital yang runcing.

3. Red Devil Tergolong Ikan Akuarium yang Kuat

Berkat morfologinya yang unik, maka ikan red devil ini banyak disukai oleh penggemar ikan hias.

Namun tak hanya itu saja, ikan ini juga digemari karena mampu membangun sebuah relasi yang dekat dengan pemiliknya.

Meski begitu, ikan red devil ini juga merupakan spesies akuarium yang tangguh dan kuat, teman-teman.

Untuk itu, kita perlu memperhatikan beberapa hal agar mereka bisa tumbuh maksimal di akuarium yang sudah disediakan.

Misalnya, pemilihan akuarium yang besar untuk ruang gerak red devil karena mereka adalah perenang yang aktif.

4. Memiliki Perilaku Agresif

Tahukah teman-teman? Penamaan red devil ini ternyata bukan karena warna tubuhnya, melainkan karena perilaku agresifnya.

Dilansir dari Fishkeeping World, tidak jarang ikan red devil ini mengejar ikan lain untuk menggigit ekor hingga membunuh mereka.

Bahkan, ikan red devil ini bisa menunjukkan sifat agresif dengan sesamanya, namun tidak dengan pasangannya.

Tak hanya itu saja, spesies ini dianugerahi gigi tajam dan rahang yang kuat yang tak segan untuk menghancurkan perlatan akuarium.

5. Pemangsa Ikan Endemi Danau Toba

Tahukah teman-teman? Perilaku agresifnya ini sempat memicu masalah di perairan Danau Toba pada April 2022 lalu.

Kemunculan ikan red devil di danau vulkanik ini diduga karena dilepas sembarangan oleh masyarakat sekitar.

Ikan red devil ini lantas menjadi spesies yang invasif di Danau Toba dan memangsa ikan-ikan yang berukuran lebih kecil.

Jika dibiarkan begitu saja, maka akan menyebabkan populasi ikan endemik di Danau Toba menjadi berkurang.

Untungnya, masyarakat setempat sudah berusaha menangkap ikan ganas itu untuk menjaga keseimbangan ekosistem disana.

Jadi Kebanggaan Indonesia, Ini Mitos dan Fakta Menarik Seputar Candi Borobudur

Pernahkah teman-teman mengunjungi Candi Borobudur yang menjadi kebanggaan Indonesia?

Candi Borobudur terletak di Magelang, Jawa Tengah, yang tidak hanya kaya akan nilai sejarah, tetapi juga memiliki pesona keindahan bangunan candi Buddha.

Candi Borobudur dibangun pada masa pemerintahan Dinasti Syailendra pada Kerajaan Mataram Kuno.

Candi Borobudur ini begitu dibanggakan di Indonesia karena menjadi candi Buddha yang terbesar di dunia yang selalu ramai wisatawan.

Untuk mengenal pesona Candi Borobudur, ketahui beberapa mitos dan fakta menarik seputar Candi Borobudur yang kami sampaikan ini, yuk!

Mitos Menarik Candi Borobudur

1. Dibangun Oleh Makhluk Halus

Kok, kedengarannya seram, ya? Eits, simak dulu penjelasan dari kami.

Banyak mitos beredar bahwa candi Borobudur ini dibangun bukan oleh manusia, melainkan dibangun oleh makhluk halus bahkan alien, lo!

Hal ini karena Candi Borobudur yang dibangun pada abad ke-8 ini memiliki gaya bangunan yang megah serta dibangun dengan teknologi yang begitu canggih.

Padahal, teknologi pembangunan abad ke-8 ini belum secanggih sekarang.

Mitos ini pun tidak pernah terbukti, seiring dengan temuan para arkeolog bahwa Candi Borobudur memang dibangun oleh manusia dengan teknologi yang maju pada abad ke-8.

2. Arca Sang Pengabul Doa

Mitos yang berkembang hebat seputar Candi Borobudur adalah mengenai Arca Sang Pengabul Doa.

Banyak wisatawan yang berusaha memasukan tanga mereka ke salah satu candi yang di dalamnya terdapat arca.

Namun, ini adalah sebuah mitos belaka, ya, teman-teman. Seiring dengan berjalannya waktu, memegang arca tertentu di kompleks Candi Borobudur ini dilarang untuk menjaga kondisi candi.

3. Candi Borobudur Pernah Hilang

Bagaimana candi sebesar Candi Borobudur ini bisa hilang, ya?

Banyak mitos dan legenda yang menceritakan bahwa Candi Borobudur ini pernah hilang karena disembunyikan oleh makhluk halus.

Padahal, bencana alam meletusnya Gunung Merapi-lah yang menjadikan Candi Borobudur ‘menghilang’ karena tertutup abu.

4. Candi Borobudur Adalah Sebuah Jam Raksasa

Ini adalah mitos yang menarik, teman-teman. Dikabarkan bahwa Candi Borobudur ini adalah sebuah jam raksasa, lo!

Hal yang mendasari mitos Candi Borobudur menjadi sebuah jam raksasa adalah adanya 72 stupa yang memiliki bentuk seperti lonceng terbalik.

Ketika matahari bersinar, bayangan stupa akan menunjukkan waktu berdasarkan sudut datang sinar matahari.

Sayangnya, mitos ini belum bisa dibuktikan secara ilmiah oleh para arkeolog.

5. Candi Borobudur Dikelilingi Danau Air Asin

Tak kalah menariknya, mitos satu ini menyebutkan bahwa Candi Borobudur ini pernah dikelilingi danau air asin.

Dahulu, disebut pernah ada danau yang bersumber dari mata air asin di sekitar Candi Borobudur. Oleh sebab itu, Candi Borobudur dibangun menyerupai bunga teratai, teman-teman.

Hingga sekarang, keberadaan danau air asin yang menghilang ini belum bisa dibuktikan oleh para arkeolog.

Fakta Menarik Seputar Candi Borobudur

1. Dibangun Oleh Dinasti Syailendra

Candi Borobudur dibangun pada abad ke-8 dan 9 sekitar tahun 800 masehi pada masa pemerintahan dinasti Syailendra, yang merupakan penganut agama Buddha Mahayana.

Candi Borobudur dibandung pada 824 masehi oleh Raja Samaratungga ketika masa Wangsa Syailendra.

Pembangunan Candi Borobudur selesai pada 874 masehi oleh Ratu Prabudawardhani, putri Samaratungga.

2. Memiliki Ukuran Tapak Candi yang Luas

Candi Borobudur memiliki ukuran tapak candi yang sangat luas. Ukurannya yakni 123 x 123 meter persegi.

Sementara itu, tinggi Candi Borobudur adalah 35,40 meter, terdiri dari 504 patung Buddha, 72 stupa terawang, dan 1 stupa induk.

3. Ditemukan Kembali oleh Thomas Stamford Raffles

Setelah ‘hilang’ akibat letusan Gunung Merapi dan terkubur berabad-abad, candi Borobudur ditemukan kembali pada 1814 oleh Gubernur Jenderal Inggris Thomas Stamford Raffles ketika sedang berada di Pulau Jawa.

Setelah itu, Candi Borobudur akhirnya dipugar dan terus diperbaiki hingga sekarang.

4. Memiliki Relief Paling Lengkap

Di dalam Candi Borobudur, terdapat 2.672 panel. Ansambel atau kumpulan reliefnya paling lengkap di dunia dan tidak ada yang menandingi nilai seni dan sejarahnya.

5. Diakui Sebagai Situs Warisan Dunia Oleh UNESCO

Pada tahun 1991, United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization atau Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan bangsa-Bangsa (UNESCO) menetapkan Candi Borobudur sebagai salah satu warisan dunia.